Borobudur Writers and Cultural Festival

Peter B R Carey: Penerima Sanghyang Kamahayanikan Award 2014

Peter BR Carey

Peter B R Carey adalah seorang sejarawan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk meneliti sejarah Nusantara, khususnya sejarah Jawa dengan fokus sejarah Pangeran Diponegoro dan tata kuasa Jawa masa kolonial. Ia telah mempublikasikan banyak buku tentang perang Jawa dan peran Pangeran Diponegoro.

Salah satu alasan kami, Samana Foundation menganugrahi Award Sang Hyang Kamahayanikan kepada Peter Carey adalah karena ia kami pandang mampu menjelaskan dunia batin atau dunia dalam dari Diponegoro. Uraian mengenai sosok Diponegoro di tangan Carey bukan hanya sekedar deskripsi mengenai perang dan siasat-siasatnya. Tapi suatu uraian yang menjelajah masuk , mencoba mengungkit alam spiritual Diponegoro.

Disertasinya The Power of Prophecy Prince Diponegoro and the End of an Old Order in Java 1785-1855, yang diterjemahkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) sebagai Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, menjelaskan hal itu.

Disertasi itu lebih dari 1.000 halaman tebalnya. Hal-hal detail dari Diponegoro yang tak pernah kita ketahui tersaji dalam buku ini. Termasuk lelono brata tersebut. Membaca disertasi itu kita mampu merenungkan pergumulan Diponegoro antara dunia Islam dan dunia Kejawen. Bagaimana Diponegoro kemudian menyaksikan Jawa yang makin kehilangan harga diri, terpanggil menjadi Ratu Adil. Sesuatu visi eskatologis yang menurutnya merupakan visi Jawa dan Islam sekaligus.

Untuk menggambarkan konteks kesejarahan kemunculan Ratu Adil itu, secara luar biasa Carey menggabungkan data arsip militer Inggris, arsip militer Belanda, karya peneliti lain tentang Jawa, serat Jawa, dan surat-surat Diponegoro. Seperti kita ketahui, Raffles pernah menguasai Yogyakarta dan pernah menjarah isi istana Yogyakarta – termasuk semua dokumennya.

Selama empat hari harta Keraton dipindahkan ke karesidenan dengan pedati dan kuli panggul. Yang paling banyak diangkut adalah senjata, wayang, semua gamelan keraton, serta arsip dan naskah. Naskah-naskah itu mencakup karya sastra seperti babad dan dokumen-dokumen, misalnya perincian tanah jabatan milik keluarga Sultan. Naskah-naskah tersebut kini disimpan di British Museum. Carey banyak memanfaatkan data itu. Ia juga bertumpu pada Babad Diponegoro–suatu catatan harian yang dibuat Diponegoro saat dalam pengasingan di Menado dan Makassar. Ada berbagai versi babad itu: versi Yogyakarta, versi Surakarta, dan sebagainya. Carey mempelajari semuanya.

Carey menjelaskan, dari remaja Diponegoro, sudah terlibat pergulatan intelektual. Ia membaca berbagai kitab hukum dan politik Islam. Tapi ia juga gemar membaca tasawuf dan suluk Jawa. Satu kitab tasawuf yang paling disukainya adalah Kitab Tuhfah yang berisi uraian tentang “martabat tujuh” , ajaran sufisme tentang tujuh tahapan eksistensi manusia. Umur 20 tahun, Diponegoro melakukan perjalanan ke pesantren-pesantren sekitar Yogyakarta. Diponegoro menanggalkan baju kebangsawananya surjan berkerah tinggi, kain, dan penutup kepala dari batik tulis. Ia lalu berpakaian santri biasa, sorban hitam, sarung kasar, baju putih tanpa kancing tanpa kerah.Ia juga menyepi di makam Sunan Kalijaga di Kadilangu dan Masjid Agung Demak.

Setelah dari pesantren ke pesantren ia kemudian menjalani tirakat-tirakat dan tapa. Pertama-tama ia melakukan meditasi di Goa Song Kamal, di Jejeran, sebelah selatan Yogja .Di situ ia mengalami peristiwa penampakan Sunan Kalijaga. Sang Sunan dalam bisikannya menyatakan bahwa Diponegoro adalah raja di masa depan. Diponegoro juga merasa bahwa ia diminta oleh Sunan Kalijaga untuk menjadi penjaga spiritual para raja Jawa. Dari Goa Song Kamal, dengan telanjang kaki, ia berjalan kaki ke makam para leluhurnya di Imogiri. Dia menghabiskan waktu seminggu bersemedi di Imogiri.

Dari Imogiri, Diponegoro lalu meneruskan perjalanannya menyusuri goa-goa Pantai Selatan. Pertama kali dia berhenti di Goa Siluman, dekat Sungai Oyo. Dari situ ia menuju Goa Surocolo, di tepi Kali Opak, Kecamatan Gamelan, Gunung Kidul. Diponegoro menghabiskan waktu du malam di situ. Setelah itu dia melintasi kaki Gunung Kidul menuju Goa Langse di Parang Tritis. Goa Langse dikenal karena lokasinya yang seakan menggantung di atas Laut Selatan. Gemuruh permukaan air Laut Selatan nyaris sejajar dengan jalan masuk ke Goa Langse. Sampai saat ini Goa Langse masih menjadi tempat tapa bagi para peziarah. Kita ingat beberapa tahun lalu penyair Yogyakarta, Ragil Suwarno Pragolapati pernah hilang – dan tak pernah ditemukan kembali saat melakukan meditasi di situ. Di sinilah, pada tahun 1805 selama dua minggu Diponegoro bertapa dan merasa bertemu dengan Ratu Kidul. Saat itu mereka berjumpa tapi tanpa kata-kata.

Dari Goa Langse, Diponegoro pun turun menyusuri Pantai Parangtritis. Ia kemudian tidur di Pantai Parang Kusumo. Di situlah ia mendengar suara gaib yang menyatakan Yogyakarta bakal hancur dan tanah Jawa akan terombang-ambing dalam situasi tak menentu. Wiwit bubrah tanah Jawi… Kata suara itu.

Carey, kepada kita mampu memberikan gambaran betapa Diponegoro sama sekali tak melihat penglihatan-penglihatan atau wisik-wisik gaib yang dialaminya itu sebagai sesuatu yang musyrik .Sebagai seorang muslim , ia tetap mengganggap jalan batin, jalan lelono adalah jalan untuk bisa memahami pesan-pesan Tuhan. Diponegoro merasa menanggung beban suatu misi profetik.Dari bisikan-bisikan gaib itu ia merasa mendapat tugas ilahiah untuk sebuah penyelamatan tanah Jawa. Itu juga menurutnya bukan jalan yang menyimpang dari Islam. Sebuah sinkretisme ada di dalam dirinya. Kalaupun kemudian dalam perang Diponegoro menampilkan dirinya sebagai sosok bersurban dan berjubah putih―sebagaimana ulama-ulama Arab menurut Carey itu berbeda sekali dengan tokoh-tokoh gerakan Padri yang menganut Wahabisme. Kostum Diponegoro lebih mencerminkan lambang sebuah kesucian.

Antara umur 20 sampai 40 tahun, Diponegoro menyaksikan bagaimana kraton Jawa makin kehilangan otoritas dan Jawa makin wiwit bubrah itu. Tahun 1808 Daendels ditunjuk penguasa Perancis menjadi Gubernur Jendral di Batavia . Di Eropa saat itu Peranciss menaklukan Belanda. Jawa berada di bawah kekuasaan Napoleon. Daendels, sebagai wakil Napoleon di Jawa melakukan berbagai reformasi yang menyebabkan kewibawaan keraton dan raja dipangkas .

Residen-residen Belanda yang diangkat Daendels kedudukannya disejajarkan dengan raja. Hal itu menyakitkan hati sekali bagi kraton Jawa. Daendels juga memonopoli perdagangan kayu jati sampai ke daerah timur Ponorogo dan Madiun. Menyebab seorang bupati wedana bernama Raden Ronggo memberontak. Dia memimpin pemberontakan dari Maospati, Madiun. Diponegoro kecewa terhadap Sultan karena justru menyokong Daendels menumpas pemberontakan Raden Ronggo. Di mata Diponogeoro, itu makin menambah kebangkrutan keraton. Karena Daendels kemudian meminta uang ganti rugi (bayaran) kepada kraton untuk jerih tentara-tentaranya saat menumpas Raden Ronggo. Uang tersebut menurut Carey bila dihitung dalam kurs sekarang sampai mencapai 60 juta dollar Amerika.

Setelah Daendels hengkang dari tanah Jawa, kemudian datang Raffles. Raffles makin memangkas sumber-sumber keuangan kraton.Kapal-kapal angkut dan perang Inggris melakukan pendaratan di Pelabuhan Cilincing, Batavia pada Agustus 1811. Setelah menduduki Batavia, Raffles menyerbu kraton Jogja pada 19-20 Juni 1812. Pasukan Inggris terdiri tentara Inggris dan Sepoy. Rafles dibantu oleh Pangeran Notokusumo .Dan juga Kapitan Cina di Yogyakarta, Tan Jin Sing. Dialah yang menyediakan tangga-tangga bambu untuk mengepung tembok keraton. Disinilah Diponegoro menyaksikan bagaimana kraton kehilangan kewibawan luar biasa. Kraton dilucuti oleh Inggris. Rafles melakukan penjarahan besar-besaran seluruh aset-aset keraton. Suatu kleptomania akbar.

Belanda kemudian mengambil lagi pemerintahan pada Agustus 1816. Kebijakan residen Belanda di Yogja, Nahuys Van Burgst tambah memperparah keraton. Burgst menekan kalangan bangsawan istana menyewakan lahan-lahan dan tanah-tanah untuk para pedagang Belanda yang memiliki modal besar Tanah-tanah banyak keluarga istana kemudian dikuasai penyewa Eropa. Kebijakan Burgst selanjutnya adalah memonopoli gerbang Cukai. Dan kemudia mengijinkan merebaknya perdagangan candu secara eceran di masyarakat oleh pedagang Tionghoa yang membuat masyarakat kecil pun mengkonsumsi.

Diponegoro tak tahan melihat semua itu. Benih-benih pemberontakan kemudian terkristalisasi dalam batin Diponegoro. Bayangannya menatap jauh ke depan. Ia menginginkan kembali datangnya Jawa yang terhormat. Panggilan Mesianistik tersebut makin menggumpal setelah dalam suatu bulan puasa di Gua Secang, Selarong ia mendapat penglihatan kembali. Tepatnya bulan puasa 19 Mei tahun 1824. Malam itu adalah malam selikuran (malam ke 21 bulan Ramadhan) ramadhan.Malam yang dikenal umat Islam sebagai malam turunnya Lailatul Qadar. Malam yang penuh berkah dan ampunan. Di Gua Secang itu, di malam Lailatul Qadar itu , mata pangeran Diponegoro terpejam. Antara tidur dan sadar, Diponegoro melihat ada sosok berpakaian haji di depannya.

Diponegoro terpana, dan bertanya .

“Aku tak mengenal Anda, dari mana gerangan Anda?

Aku tak punya rumah. Aku datang karena diutus menjemput Anda yang mulia,” jawab sosok itu.

Diponegoro bertanya lanjut:

“Siapa yang menyuruh Anda itu dan di mana tinggalnya?”

Sosok misterius itu menjawab tenang: “Sesungguhnya, ia tak punya rumah. Seluruh tanah Jawa ia anggap rumahnya. Dia adalah yang menyandang gelar Ratu Adil, dialah yang mengutus saya.”

Inilah penampakan yang amat menentukan bagi Diponegoro. Iman Messianistiknya makin mantap tatkala setahun kemudian, tepatnya 16 Mei tahun 1825 di Gua Secang, ia mendapat penampakan lagi.Setelah berbuka puasa, ia bermeditasi di atas di batu. Tiba-tiba delapan orang yang bersinar menampakkan diri. Mereka menyapa Diponegoro dan membacakan surat dari: Kang Sinuwun Kanjeng Sultan Ngabdulkamid Erucokro Sayidin Panatagama. Mereka lalu mengumandangkan takbir. Diponegoro ikut melakukan takbir.

Terwujudnya pemberontakan itu seperti sering diceritakan dalam sejarah tatkala pemerintah Belanda melakukan perbaikan jalan di Yogyakarta dan melakukan pematokan-pematokan. Pada 17 Juni 1825 , patok-patok ini sampai ke Tegalrejo wilayah Diponegoro. Diponegoro menyuruh, serdadunya mencabut dan mengganti patok-patok itu dengan tombak-tombak. Inilah awal peperangan. Dalam sejarah kolonial Belanda peperangan melawan Diponegoro ini dianggap sangat menguras energi dan merugikan.

Dengan menarik tapi Carey mencatat sebelum pemberontakan Diponegoro itu, sudah ada pemberontakan kecil-kecilan, yang juga mengataskan namakan gerakan Ratu Adil. Pemberontakan itu namun bukan dilakukan seorang pangeran tapi oleh kalangan biasa. Pada 1817, di Bagelen timur, Yogya, misalnya muncul seorang sosok bernama Raden Mas Umar Mahdi, yang menyatakan diri sebagai Imam Mahdi. Ia menyeru semua penduduk Bagelen, baik Jawa maupun Tionghoa, tunduk kepadanya. Ia memimpin 50 pengikut yang membawa tombak, pedang, atau keris untuk menyerang pedagang Tionghoa dan penjaga gerbang cukai. Ia ditangkap dan dihukum cambuk.

Pada Juli tahun itu juga, sekitar 4.000 orang Jawa datang di Ketonggo, Madiun, Jawa Timur. Mereka mengumpulkan padi untuk menyambut pemimpin baru yang dipercaya datang tak lama kemudian. Bermacam ramalan bermunculan saat itu. Salah satu yang ditakuti oleh pemerintah Belanda adalah ramalan seorang bernama Iman Sampurno. Ia mengatakan akan datang wabah kolera dan sampar pada 21 Oktober 1819 sampai 8 Oktober 1820. Sampar besar ini dinilai sebagai salah satu tanda munculnya Ratu Adil. Ramalan itu ternyata benar. Pada tahun-tahun itu, meski waktunya tak pas benar, memang terjadi musibah besar di Asia. Wabah kolera masuk dari India melalui Pulau Pinang dan Malaka, hingga masuk ke Jawa. Pada 1821, tanah Jawa juga dilanda musim panas yang mengerikan. Cuaca kering, kemarau berkepanjangan, gagal panen di mana-mana. Pada 1822 Gunung Merapi meletus.

Carey mencatat serangkaian pemberontakan pada musim kemarau 1822 tersebut. Seorang pangeran bernama Diposono melakukan makar. Tubuh lelaki ini kecil dan cacat. Ia menderita sakit jiwa, tapi mahir dalam ilmu nujum dan primbon. Ia ingin melawan Belanda dan Tionghoa. Dengan perantara seorang petualang dari Surakarta bernama Jokomulyo, ia menghimpun dukungan aneka macam pentolan begal dan perampok di Kedu, Jawa Tengah. Juga seorang dukun perempuan pengelana bernama Embok Kajen, yang menampilkan diri sebagai Raden Ayu Guru. Dua pemberontakan hendak dilakukannya serentak di Kedu selatan dan di Yogya selatan. Namun Residen Kedu Pieter Le Clercg dengan pasukan polisi berkudanya sebanyak 150 orang mampu menangkap Diposono beserta pengikutnya di Desa Menayu, dekat Candi Borobudur-Mendut.

Carey menyebut gerakan Ratu Adil kecil ini sesungguhnya merupakan pendahuluan dari pemberontakan besar Diponegoro pada 1825. Diponegoro sejatinya menjadi satria yang ditunggu-tunggu. Banyak orang menganggap ia sesungguhnya tokoh yang disebut oleh Iman Sampurno di atas sebagai seorang manusia Mataram sejati.

Kita tahu, perang kemudian berlangsung kurang lebih selama lima tahun. Diponegoro memanfaatkan jaringan kyai pedesaan. Diponegoro mengorganisasikan kesatuan tentaranya dengan sistem pangkat-pangkat model Turki Ottoman. Para perwira pasukannya digelari Pasha. Di tengah-tengah pertempuran yang hebat, di Kulon Progo pada sekitar Juli 1826, Diponegoro mendapat penampakan lagi. Saat itu ia tengah berkemah di tepi Kali Progo. Ratu Kidul datang menawarkan bantuan.Tapi sang ratu menyatakan, bila ia memberikan bantuan, ia minta dimohonkan kepada Allah agar dikembalikan kembali menjadi manusia normal. Sang pangeran menolak tawaran Nayai Roro Kidul.

Siasat perang Diponegoro adalah gerilya. Kekalahan-kekalahan tapi kemudian dialami Diponegoro. Penasehat terdekatnya Kyai Mojo yang tadinya demikian solid dengan Diponegoro berselisih, dan memisahkan diri. Aliansi santri dan ksatria kemudian menjadi tak stabil karenanya. Pada November 1828, Kyai Mojo menyerah kepada Belanda. Diponegoro sendiri pernah hampir tertangkap dan dengan hanya ditemani dua orang punggawanya: Bantengwareng dan Roto, ia lari masuk ke hutan-hutan perawan sebelah barat Bagelen. Dalam hutan ia menderita Malaria. Kepalanya dibanderol 20.000 gulden.

Sampai akhirnya, pada bulan 28 Maret 1930, di sebuah bulan puasa perundingan di kediaman karesidenan Magelang terjadi. De Kock membuat suatu jebakan. Carey menyebut Diponegoro antara tertipu dan menyerah terhormat. Diponegoro kemudian dibuang di Menado. Beberapa tahun tinggal di Menado ia dialihkan ke Makassar. Sepanjang pengasingannya tersebut, Diponegoro membuat catatan harian berisi renungannya yang merestropeksi ulang kegiatannya dari mulai awal tirakat sampai perang. Sebuah renungan yang menampilkan betapapun ia gagal, tapi sebuah kegagalan yang terhormat. Catatan hariannya tetap menyampaikan visi apokalipti. Ia tetap mempertahankan keyakinan profetisnya. Ia tidak merevisinya.

Melalui uraian Carey kita mampu membanyangkan, bagaimana di tengah kesepiannya Diponegoro masih mempertahankan sikap-sikap eskatologisnya. Di Makassar ia sering membuat daerah atau diagram-diagram untuk pengaturan nafas selama berdoa. Diponegoro wafat di Makssar 8 Januari 1855. Sebelum wafat sebetulnya ia ingin sekali ke Kabbah. Dalam pengasingan, ia menabung-nabung agar bisa suatu waktu pergi ke Mekkah.Tapi itu tak sampai terjadi.

Apa yang dilakukan Peter Carey menurut hemat kami, Samana Foundation adalah sesuatu yang luar biasa. Seumur hidupnya ia mengabdikan diri untuk memahami Diponegoro. Ia bukan saja mampu membaca apa yang tersurat dari Diponegoro tapi juga yang tersirat. Setelah Sartono Kartodirdjo ,melahirkan buku: Pemberontakan Petani Banten 1888, buku Carey bisa disebut salah satu referensi yang terbaik mengenai Ratu Adil.

Dalam sejarah, kita tahu gagasan Ratu Adil tidak berhenti di Diponegoro. Setelah Diponegoro, meskipun dalam skala kecil gerakan-gerakan millinearisme menginginkan masyarakat yang adil terjadi sporadis di sana sini. Sebagaimana Diponegoro,para pemimpin gerakan milinearisme ini membayangkan diri sebagai Erucakra. Sartono sendiri pernah menguraikan misalkan pada 1870 ada gerakan Kobra atau Jumadil kubra di Pekalongan dan Banyumas. Atau pemberontakan Entong gendut di Tanjung Timur (Cililitan) pada 1916. Sebagaimana juga dikatakan Sartono, gerakan-gerakan semacam ini bukan hanya di Jawa tapi juga terjadi berbagai sudut nusantara ini.

Pada dasarnya, semua gerakan ini berkenaan dengan idaman akan munculnya suatu masyarakat yang tentram dan sejahtera. Idaman akan datangnya suatu zaman keemasan, yang pemimpinannya berani menyejahterahkan masyarakatnya daripada menguntungkan asing. Apa yang dicapai Peter Carey bisa menjadi referensi untuk para peneliti menggeluti harapan-harapan keadilan dasar di seluruh nusantara yang belum digali. Untuk itulah sebuah Award layak diterimanya.