Borobudur Writers and Cultural Festival

Borobudur Writers & Cultural Festival

bwcf-banner

Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut dapat memanfaatkan segala kekayaan yang ada sesuai dengan kebutuhan aktualnya.

Festival ini diciptakan untuk menjadi perayaan karya-karya budaya yang membuka diri terhadap segala kemungkinan keragaman identitas dan segala manifestasi ekspresif di masa lalu, masa kini dan segenap pilihan inseminasi kreativitas di masa depan. Selain itu, festival ini merupakan wahana pertemuan antarkomunitas, antarkelompok serta ruang dialog antara karya-karya budaya dengan publik sehingga terbangun pemahaman yang mendalam di antara individu maupun komunitas budaya tersebut dalam cakupan ruang dan waktu yang tak terbatas. Juga sebuah festival sebagai ruang kemungkinan bagi segala penjelajahan imajinasi dan bentuk-bentuk ekspresifnya.

BWCF yang pertama telah diselengarakan pada tahun 2012, dengan tema “Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara”. Pada BWCF 2012 itu hadir 350 penulis cerita silat dan penulis berlatar sejarah Nusantara. Selain sesi seminar juga diadakan pemutaran film, pelepasan buku, pementasan seni, lecture tentang sejarah Nusantara, workshop penulisan cerita anak, dan pemberian penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award. Penghargaan ini diberikan kepada penulis, sejarawan, peneliti, budayawan, atau tokoh-tokoh yang berjasa bagi pengembangan budaya dan sejarah Nusantara. Pada BWCF 2012 award diberikan kepada SH Mintardja, seorang penulis cerita silat yang sangat produktif.

Pada 2013 BWCF mengusung tema “Arus Balik: Memori rempah dan Bahari Nusantara, antara Kolonial dan Poskolonial”. Perhelatan ini dihadiri para penulis berlatar sejarah maritim Nusantara, para antropolog, sejarawan, mahasiswa, wartawan, sastrawan, dan masyarakat umum. Sang Hyang Kamahayanikan Award 2013 diberikan kepada AB Lapian, seorang sejarawan maritim yang telah memberikan kontribusi besar di dunia keilmuan dan pemahaman atas sejarah bahari Nusantara.

Pada BWCF ketiga yang dilaksanakan pada 2014 mengusung tema “Ratu Adil, Kuasa, dan Pemberontakan di Nusantara”. Selain seminar sebagai menu utama, diselenggarakan pentas seni tradisi di Balai Seni Desa Gejayan, Gunung Merbabu dan Balai Seni Desa Tutup Ngisor, Gunung Merapi, Magelang. Pada 2014 Sang Hyang Kamahayanikan Award diserahkan kepada Peter Carey. Ia adalah seorang sejarawan Inggris yang mendarmabhaktikan hidupnya untuk meneliti riwayat Pangeran Diponegoro.

Pada 2015 mengusung tema, “Gunung, Bencana, dan Mitologi di Nusantara”. Pada 2015 Sang Hyang Kamahayanikan Award diserahkan kepada Hadi Sidomulyo. Seorang warga Inggris yang telah berganti kewarganegaraan Indonesia.

Pada BWCF 2016 mengusung tema “Setelah 200 Tahun Serat Centhini: Erotisisme & Religiusitas Dalam Kitab-kitab Nusantara”. Pada 2016 Sang Hyang Kamahayanikan Award diserahkan kepada Halilintar Lathief dan Karkono Partokusumo Kamajaya. Penyerahan Award diberikan oleh Tim Samana Foundation dan menggandeng PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.