Prof. Dr. Abdullah Dahana atau lebih dikenal dengan panggilan A. Dahana, menempuh di Universitas Indonesia, mendapat MA, Chinese Literature, Cornell University (1979) dan Ph.D. tentang Contemporary Chinese History, University of Hawaii at Manoa (1986). Guru Besar Chinese Studies Jurusan Sastra China, Fakultas Humaniora Universitas Bina Nusantara (BINUS), Jakarta. Adalah Mantan Guru Besar Sinologi, Fak. Ilmu P. Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Dekan Fak. Ilmu Peng. Budaya Universitas Indonesia (1999-2003), Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), U.I. (2004-2007), Pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Sejarah, Ketua Jurusan Asia Timur; Ketua Program Studi Cina, FIBUI. Koresponden MBM Tempo, Honolulu, Taipei (1978-1986), Penanggung Jawab Rubrik Luar Negeri MBM Tempo (1987-1992), Direktur Eksekutif Fulbright Commisson (1992-1998). Penulis populer, kolumnis, komentator dan penulis ilmiah tentang Cina.
Dr. Bambang Budi Utomo, lahir pada 7 Agustus 1954. Mengenyam pendidikan Arkeologi Universitas Indonesia. Kini peneliti arkeologi yang bekerja pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Sebagai peneliti arkeologi, ia lebih memfokuskan penelitiannya pada kajian Śrīwijaya dan Mālayu dengan pendekatan kajian regional. Buku-bukunya, antara lain: Pertanggalan dan Arsitektur Bangunan Gedingsuro. Jakarta: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, 2002; Prasasti-prasasti Sumatra. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, 2007; Pandanglah Laut Sebagai Pemersatu Nusantara (Editor & Penulis). Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2007; Zaman Klasik di Nusantara: Tumpuan Kajian di Sumatera (tulisan bersama Prof. Dato’ Dr. Nik Hassan Shuhaimi). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2008; Buddhism in Nusantara. Edisi Inggris, Juni 2008. Surabaya: Buddhist Education Centre; Inskripsi Berbahasa Melayu Kuno di Asia Tenggara (tulisan bersama Prof. Dato’ Dr. Nik Hassan Shuhaimi). Bangi: ATMA University Kebangsaan Malaysia, 2009; Atlas Sejarah Indonesia Masa Klasik (Hindu Buddha) (Penulis). Jakarta: Direktorat Geografi Sejarah, 2010; Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia di Batanghari. Jambi: Dinas Kebudayaan dan Provinsi Jambi, 2011; Atlas Sejarah Indonesia Masa Islam (Penulis). Jakarta: Direktorat Geografi Sejarah, 2011; INDONESIA: My home the Islands, My Yard the Sea (Penulis). Jakarta: Direktorat Peninggalan Bawah Air, 2012. Karya tulis populernya diterbitkan di Kompas, The Jakarta Post, The Point, Sriwijaya Pos, dan Suara Pembaruan, Paramadina, Kompas, Tempo dll.
Dr. Bondan Kanumoyoso, lahir pada 11 November 1972, dosen dan peneliti di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pendidikan sarjana dan pasca sarjananya ia raih di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia pada1996. Kemudian ia masuk pada Advanced Master Sejarah di Leiden University pada 2002 dan doktor sejarahnya ia raih di Leiden University pada 2011. Minat utamanya pada sejarah modern awal Indonesia, sejarah maritim, dan sejarah modern ekonomi Indonesia.
Irawan Djoko Nugroho, lulusan Universitas Gajah Mada. Bukunya tentang maritim, antara lain Majapahit Peradaban Maritim: Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia dan Meluruskan Sejarah Majapahit.
Prof. Dr. Agus Aris Munandar, lahir di Indramayu, 13 Juli 1959. Sekolah Dasar, SMP Negeri I , dan SMA Negeri di Indramayu, lulus SMA tahun 1978, melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta; namun hanya kuliah 1 tahun saja, dalam tahun 1979 mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI). Setelah kuliah 1 tahun di Jurusan Sejarah FSUI, lalu pindah jurusan Arkeologi hingga lulus tahun 1984, menjadi Sarjana Sastra Universitas Indonesia bidang Arkeologi Indonesia. Judul skripsi: “Beberapa Data Historis dari Prasasti Mula-Malurung”, prasasti itu berasal dari zaman Kerajaan Singhasari (abad ke-13 M), dalam masa pemerintahan raja Krtanagara.
Tahun 1990 lulus pendidikan S2 pada Program Studi Arkeologi, Fakultas Pascasarjana Universitas dengan judul Tesis “Aktivitas Keagamaan di Gunung Penanggungan: Gunung Suci di Jawa Timur dalam Abad ke-14-15 M)”. Tahun 1999 lulus pendidikan S3 pada program Studi Arkeologi, Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dengan judicium cum claude. Disertasi yang disusun berjudul “Pelebahan: Upaya Pemberian Makna pada Puri-puri Balai Abad ke-14-19 M”. Karyanya yang berkenaan dengan Majapahit, antara lain: Catuspatha, Arkeologi Majapahit (2011), Gajah Mada, Biografi Politik (2010), Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian (2008).
Dr. Edward Lamberthus Poelinggomang, lahir di Kabir (kabupaten Alor, NTT) pada 21 Oktober 1948, adalah dosen Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Makassar, juga sebagai staf pengajar pada program pascasarjana Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, dan STT Intim Makassar. Ia memperoleh gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada pada 1980, kemudian mengikuti program Post Graduate Training for Historian di Rijksuniversiteit Leiden pada Maret 1981- April 1983, dan pada tahun 1984 memperoleh gelar magister dari Universitas Indonesia. Gelar doktor diperoleh dari Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda, pada Desember 1991. Pada tahun 1999 diundang menjadi profesor tamu di Center for Southeast Asia Studies, Kyoto University, Jepang.
Prof. Dr. Gusti Asnan dilahirkan di Lubuk Sikaping tanggal 12 Agutus 1962. Sejak tahun 1988 menjadi Dosen di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Menyelesaikan Pendidikan Sejarah (Drs) di Jur. Sejarah Fak. Sastra, Univ. Andalas dan Program Doktor di Fachbereich fuer Sozialwisschenschaften Universiteit Bremen (Jerman). Banyak meneliti dan menulis tentang sejarah Minangkabau dan sejarah maritim Indonesia bagian barat. Beberapa karya buku yang telah dihasilkan antara lain Penetrasi Lewat Laut: Kapal-kapal Jepang di Indonesia Sebelum Tahun 1942 (2011), Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an (2007), Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera (2007), Demokrasi, Otonomi, dan Gerakan Daerah: Pemikiran Politik Orang Minang Tahun 1950-an (2006), dan Pemerintahan Daerah Sumatera Barat: Dari VOC Hingga Reformasi (2006), Kamus Sejarah Minangkabau (2003).
Muhammad Ridwan Alimuddin, lahir 23 Desember 1978 di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Pernah kuliah di Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan UGM Yogyakarta. Saat ini bekerja sebagai penulis, fotografer, peneliti, jurnalis, dan fixer pembuatan film dokumenter. Kegiatan utama mendokumentasikan kebudayaan maritim Nusantara dalam bentuk film, foto dan tulisan. Buku yang ditulis di antaranya adalah Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?, Orang Mandar Orang Laut, Sandeq Perahu Tercepat Nusantara, dan Mandar Nol Kilometer. Terlibat dalam beberapa ekspedisi kemaritiman seperti Ekspedisi The Sea Great Journey Mandar – Jepang, Ekspedisi Garis Depan Nusantara Bagian Timur, Ekspedisi Bumi Mandar, beberapa pelayaran ilmiah Pinisi Riset Cinta Laut, dan koordinator tim pelayar perahu sandeq di Festival Maritim Brest 2012 di Perancis.
Muhammad Riza Adha Damanik (RIZA DAMANIK), lahir di Tanjung Balai Asahan Sumatera Utara, 17 Oktober 1980. Kini tengah menuntut ilmu Program Doktoral (S-3) Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam, Fakultas Geografi, University Sains Malaysia. Pada 2008 ia mengikuti Pendidikan Khusus untuk Ekologi Politik di Institute of Social Studies (ISS), The Hague, Belanda. Di oganisasi ia Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) untuk peiode 2012 – sekarang dan Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice www.igj.or.id (2013-2015). Karya-karyanya dalam bentuk buku, antara lain Hak Asasi Nelayan (2012), kumpulan tulisan bersama di Menghidupkan Konstitusi Kepulauan (2012).
Nick Burningham, arkeolog maritim dan perancang kapal replika. Nick telah merancang dan membangun kapal replika di Indonesia, Vietnam, Sultaniya Oman, Suriah, Australia dan Italia. Ia adalah penulis buku tentang menjelajahi sungai Swan, beberapa bab buku dan makalah tentang desain kapal replika, dan beberapa makalah tentang perahu layar tradisional di Indonesia. Pada 1970-an dan 80-an dia memilik sebuah perahu lambo buatan Sulawesi Selatan, dan sering berlayar dari Indonesia ke Australia dan pelayaran kembalinya.
Nila Riwut, adalah Juru Ketik naskah merangkap asisten Bapak Tjilik Riwut dalam bidang tulis menulis buku-buku sejarah dan budaya suku Dayak Kalteng. Menekuni bidang sejarah dan budaya suku Dayak Kalimantan Tengah. Menulis artikel lepas bidang sejarah dan budaya suku Dayak Kalteng di media cetak dan media elektronik. Penyunting Buku : Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan karya Tjilik Riwut. 1993, Penerbit Tiara Wacana. Bawin Dayak : Position, Fungtion, And Roles Of Dayaknese Woman. 2011, Yogyakarta : Galangpress. Dewan Pembina Lembaga Study Dayak Yogyakarta. Pembina Gerakan Bersatu dan Berbuat Manggatang Utus ( GB2MU) Kalimantan Tengah.
Remy Sylado, memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Ia juga salah satu pelopor penulisan puisi mbeling. Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, drama, dan tahu banyak akan film. Karya-karyanya, antara lain Sam Po Kong (2004), Ca-Bau-Kan (1999), Pangeran Diponegoro (2008), 123 Ayat tentang Seni (2012). Pada 2002 Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi. Pada 2013, ia menerima penghargaan Bakrie Award untuk bidang sastra.
Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro jurusan Sejarah dan mendapatkan doktor di Universitas Leiden, Belanda. Menulis beberapa buku, antara lain Pemberontakan Angkatan Umat Islam (AUI) di Kebumen 1950, “Prahu Shipping around the Java Sea and Its Role in the Interregional Connection during the Late Colonial State of Indonesia, 1900-1942”, dalam: Edi Sedyawati & Susanto Zuhdi (Penyunting), Arung Samudera: Persembahan Memperingati Sembulan Windu A.B. Lapian, hlm. 203-228, Pengantar Sejarah Maritim Indonesia, Simpul-simpul Sejarah Maritim: Dari Pelabuhan ke Pelabuhan Merajut Indonesia, The Java Sea Network: Patterns in the Development of Interregional Shipping and Trade in the Process of National Economic Integration in Indonesia, 1870s-1970s, Shipping, Trade, and Economic Integration in Colonial Indonesia, “Dinamika Kemaritiman dan Integrasi Negara Kolonial”, dalam Taufik Abdullah & A.B. Lapian, Indonesia dalam Arus Sejarah, Jilid 4: Kolonisasi dan Perlawanan, hlm. 87 – 125. Kini menjadi guru besar sejarah di Universitas Diponegoro, Semarang.
Surya Helmi, menempuh pendidikan arkeologi di Universitas Gadjah Mada. Menjadi Pegawai Kanwil Depdikbud Sumatera Barat, Padang (1984–1989), Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, wilayah kerja Sumbar dan Riau, Batusangkar (1990–2000), Kepala di beberapa Subdit pada Ditjenbud, Depdikbud dan Depbudpar, Jakarta (2001 – 2005), Direktur Peninggalan Arkeologi Bawah Air, Depbudpar, Jakarta (2006 – 2011), Direktur Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemendikbud, Jakarta (2012).
Terima Kasih untuk Semua Pihak yang telah mengikuti acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 Sampai jumpa… twitter.com/i/web/status/78587…
RT @radiobuku: Penyerahan Sang Hyang Kamahayani Award | Closing Ceremony & Award Nite #BWCF2016 | Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo… https://t.co/aHA66hxmXe
RT @radiobuku: Closing Ceremony & Award Nite dibuka #BWCF2016 @InfoBwcf pic.twitter.com/i1cVEWW2mP
RT @radiobuku: Langit Kresna Hariadi mewakili organisasi profesi penulis Indonesia, bacakan deklarasi hasil musyawarah #BWCF2016… https://t.co/31ihuliFC8
RT @radiobuku: Pembicara keempat sesi "Erotisisme dalam Sastra Indonesia", Dr. Emanuel Subangun bahas dgn padat dari sudut Budaya… https://t.co/sg1JLqzGr6
Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut...