
Serat Centhini merupakan karya sastra besar dari kesusastraan Jawa yang disusun pada awal abad 19. Karya sastra ini berupa genre puisi yang digubah dalam bentuk lagu-lagu Jawa. Serat Centhini digagas oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III yang kemudian menduduki tahta dengan gelar Sunan Paku Buwana V. Setelah menjadi raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V mengutus tiga pujangga keraton, yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II (Ranggawarsita I), dan Sastradipura untuk meneruskan membuat cerita tentang segala rupa tentang kehidupan Jawa dalam bentuk tembang macapat. Serat Centhini selesai ditulis selama kurang lebih 9 tahun, dari 1814 hingga 1823 Masehi.
Serat Centhini merupakan warisan budaya Jawa klasik yang tak ada duanya baik kelengkapan maupun cakupan isi mengenai budaya Jawa hingga awal abad 19. Isi Serat Centhini meliputi sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, falsafah, agama, mistik, ramalan, sulapan, ilmu kekebalan, perlambang, sampai flora, fauna, dan seni. Yang paling dikenal dalam Serat Centhini adalah kitab ini mengulas secara terbuka khazanah erotika Jawa.
Cakupan geografi serat klasik Jawa yang ditulis sepanjang 4.500 halaman ini menjangkau wilayah-wilayah pelosok di Pulau Jawa. Perjalanan tokoh-tokoh Tambangraras dan Amongrogo ke seantero Pulau Jawa mengisahkan riwayatnya. Mereka secara langsung telah memetakan budaya Jawa pada masa itu dengan cara mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain. Karya sastra klasik Jawa ini memberikan perspektif khas pada abad 19. Sebuah masa yang menentukan bagi Jawa di tengah menguatnya kolonialisme Barat, persebaran Islam, dan meredupnya peradaban Hindu.
Isi Serat Centhini memperlihatkan gambaran sebuah dunia Jawa yang kompleks. Naskah ini membentangkan Islam bersanding damai dengan jejak-jejak kekunoan Jawa yang paganistik. Kehidupan pesantren, para penjaga makam orang sakti, kehidupan seksual liar, pelbagai tata cara mengenai kehidupan, pengetahuan lokal di penjuru pedalaman Pulau Jawa diracik dalam naskah ini. Hematnya, teks sastra ini hendak merangkum apa yang ada di permukaan Pulau Jawa pada masanya. Sebuah ensiklopedi kehidupan orang Jawa sampai dengan awal abad 19.
Serat Centhini menyampaikan secara anthropologis bagaimana perilaku mistik orang Jawa berkelindan antara seksualitas dan religiusitas. Kisah-kisah seksual di pelbagai pelosok Jawa yang dialami para tokohnya dibiarkan terbuka antara sisi sakral dan kesenangan. Seks dalam Serat Centhini bisa dikatakan sarana dalam mencapai kedalaman kehidupan sebagai manusia.
Serat Centhini merupakan catatan kebudayaan Jawa pada masanya. Apa yang muncul dalam kitab ini adalah kebudayaan Jawa yang berlaku saat itu. Pandangan seks yang ada dalam Serat Centhini tidak lain pengaruh tantrayana yang berkembang pada masa-masa sebelumnya, yaitu Singasari dan Majapahit. Namun demikian menurut M.C. Ricklefs Serat Centhini sendiri adalah Islam yang mengakui kekuatan-kekuatan supernatural asli di Jawa.
Namun demikian, di Nusantara tidak hanya Serat Centhini. Suku bangsa Bugis memiliki kitab La Galigo yang merupakan penjelasan mitologis keberadaan kebudayaan Bugis. Demikian juga suku bangsa Bali memiliki kitab Malat. Suku bangsa Sunda memiliki Kitab Bujangga Manik. Namun tidak semua suku bangsa di Nusantara memiliki kitab dalam bentuk tertulis. Pada suku bangsa Papua ensiklopedi tersebut ada dalam kisah-kisah lisan yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikian juga pada suku bangsa Dayak. Di dalam budaya Dayak banyak sekali kisah-kisah yang mengandung unsur religiusitas maupun seksualitas di dalamnya.
Pemahaman seksualitas ini tidak berhenti pada kitab-kitab sastra klasik, melainkan tetap bertahan dalam karya sastra kontemporer. Hanya saja, karya-karya sastra ini berkembang dalam konteks yang berbeda sekali di tengah Nusantara yang terbingkai oleh negara dan kontestasi budaya di era modern.
Rentang 10 tahun belakangan ini Serat Centhini muncul dalam terjemahan ke bahasa Indonesia, bahasa Inggris dengan versi lebih singkat, pelbagai novelisasi, bentuk seni tari, fotografi, ziarah perjalanan tempat-tempat dalam Serat Centhini, dan rekontruksi kuliner yang disebut dalam Serat Centhini. Segala kegiatan tersebut menunjukkan adanya apresiasi yang tinggi terhadap Serat Centhini sebagai kitab klasik budaya Jawa. Untuk itu, BWCF sudah selayaknya memberikan apresiasi yang baik kepada karya sastra klasik ini.
Bersamaan dengan itu, pada 2016 Borobudur Writers & Cultural Festival pada 2016 memasuki tahun ke-5. Tahun ke-5 terbilang istimewa untuk perjalanan BWCF dalam rangka mengangkat tema-tema budaya klasik Nusantara. Tahun ke-5 merupakan bentuk komitmen BWCF untuk tetap memperhatikan dan ikut melestarikan budaya klasik Nusantara. Sebab budaya klasik Nusantara adalah mata air kebudayaan yang tak pernah kering.
Perayaan Serat Centhini setelah rentang 200 tahun dalam konteks keragaman penting untuk membahas kitab-kitab lain di Nusantara. Perayaan itu untuk melihat kembali semangat yang tersimpan di balik karya besar dalam tradisi sastra Nusantara. Semangat itu untuk melihat dan menapaki kebudayaan Nusantara di masa kini dan mendatang dalam konteks globalisasi yang sangat nyata.
Yoke Darmawan
Direktur Festival
BWCF 2016
Samana Foundation
Terima Kasih untuk Semua Pihak yang telah mengikuti acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 Sampai jumpa… twitter.com/i/web/status/78587…
RT @radiobuku: Penyerahan Sang Hyang Kamahayani Award | Closing Ceremony & Award Nite #BWCF2016 | Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo… https://t.co/aHA66hxmXe
RT @radiobuku: Closing Ceremony & Award Nite dibuka #BWCF2016 @InfoBwcf pic.twitter.com/i1cVEWW2mP
RT @radiobuku: Langit Kresna Hariadi mewakili organisasi profesi penulis Indonesia, bacakan deklarasi hasil musyawarah #BWCF2016… https://t.co/31ihuliFC8
RT @radiobuku: Pembicara keempat sesi "Erotisisme dalam Sastra Indonesia", Dr. Emanuel Subangun bahas dgn padat dari sudut Budaya… https://t.co/sg1JLqzGr6
Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut...