Borobudur Writers and Cultural Festival

SANG HYANG KAMAHAYANIKAN AWARD

Sanghyang Kamahayanikan Award

 

Adalah nama penghargaan yang akan menjadi ciri khas penyelenggaraan Borobudur Writers& Cultural Festival. Penghargaan tersebut diberikan kepada seorang tokoh yang telah berjasa dan memiliki kontribusi besar dalam pengkajian budaya dan sejarah Nusantara, apakah itu sejarawan, sastrawan, arkeolog, budayawan, penulis buku berlatar sejarah, dramawan, dalang, rohaniawan, filolog dan sebagainya.

Pengabdian dan komitmen para tokoh itu patut dijunjung tinggi karena dengan kerja dan karya-karyanya, mereka telah berhasil menyajikan informasi yang dalam atau mampu menyuguhkan imajinasi yang segar atas sejarah Nusantara. Upaya telaah dan penelitian yang tekun selama bertahun-tahun terhadap subyek yang berkaitan dengan Nusantara harus diberi tempat yang prestisius sehingga masyarakat luas dapat memberi makna terhadap kerja intelektual yang seringkali menjadi “jalan sunyi”.

Memang kian hari kian banyak award yang diberikan kepada ilmuwan atau sastrawan. Namun sangat jarang yang difokuskan kepada para peneliti Nusantara. Maka sangat penting untuk mendorong munculnya kajian dan penulisan budaya serta sejarah yang serius karena masa lalu Nusantara belum sepenuhnya terkuak. Masih banyak naskah-naskah, artefak-artefak, situs-situs kita yang belum disibak kerahasiaannya. Kedalaman dan keluasan pemahaman terhadap apa, siapa dan bagaimana asal usul Nusantara dalam persilangan dunia sangat penting dalam menyusun strategi masa depan.

Nama award ini diambil dari sebuah kitab Buddhis Jawa bernama Sang Hyang Kamahayanikan yang sangat erat hubungannya dengan agama Buddha mazhab Tantrayana di Indonesia. Kitab ini diperkirakan ditulis antara tahun 929-947 M, oleh Mpu Shri Sambhara Surya Warama dari Jawa Timur, sebagai penerus kerajaan Mataram yang bergeser ke JawaTimur. Naskah tertua dari kitab Sang Hyang Kamahayanikan ditemukan di pulau Lombok pada tahun 1900 M.

Kitab Sang Hyang Kamahayanikan mengandung ajaran peribadatan dan ajaran untuk mencapai Kebuddhaan, termasuk penjelasan filosofis untuk mengatasi dualisme “ada” dan “tiada”. Dalam kitab itu terdapat uraian yang sangat rinci tentang bagaimana seorang yogi penganut Tantrayana menyiapkan diri di jalan spiritual, mulai fase pembaiatan hingga pelaksanaan peribadatan yang bertingkat-tingkat. Di situ disebutkan bahwa ajaran Tantrayana adalah laku meditasi terhadap Panca Tathagata. Dengan pemujaan terhadap panteon Tathagata itu, maka seorang yogi dapat mencapai kesucian pikiran. Kita ketahui bahwa di setiap arah mata angin candi Borobudur terpasang arca-arca Buddha berpantheon Tathagata: Aksobhya, Amoghasiddhi, Amitabha, Ratnasambhava, dan Vairocana.

Kitab yang berisi 129 ayat itu, bahkan bagi sebagian besar penganut Buddha masih belum dikenal dan dipelajari. Karena Sang Hyang Kamahayanikan ditulis dalam bahasa yang sarat metafora maka diperlukan kemampuan yang lebih untuk memahaminya juga bimbingan guru yang mumpuni agar tidak salah dalam mempelajarinya. Sebagai kitab beraliran Mahayana-Tantrayana, Sang Hyang Kamahayanikan menempatkan mantra-mantra dan diagram serta mudra dalam posisi sentral sebagai bentuk formula rahasia yang bersifat mistis.

Dalam Tantrayana, yang diperkirakan berkembang sejak tahun 400, dikenal dua aliran besar yaitu aliran Tantrayana kiri dan Tantrayana kanan. Sedang Mahayana dibedakan menjadi madzab Wamaçari (kiri) dan madzab Daksinaçari (kanan). Aliran kiri tampak pada personifikasi Dewi atau Çakti sehingga dapat dikaitkan dengan manifestasi seksual, sedangkan aliran kanan merujuk pada personifikasi dewata. Tantrayana adalah ajaran yang mempertemukan manifestasi jasmaniah dan rohaniah untuk mencapai tingkat tertinggi melalui yoga guna mencapai tahap akhir berupa kesempurnaan batin dan pikiran (tingkat Prajñaparamita), juga untuk mencapai Tathāgata yaitu lima ‘Jina’, sebagai sebutan untuk Yang Menang atau Sang Penakluk, yaitu gelar yang diberikan kepada Sang Buddha.

Kitab Sang Hyang Kamahayanikan juga menjelaskan waktu dalam tiga jenis, yaitu waktu lampau (atīta), waktu kini (wartamana), dan waktu yang akan datang (anagata). Pada masing-masing waktu selalu terdapat Buddha. Pada masa lalu ada Bhatara Wipaçye, Wiçwabhu, Krakucchanda, Kanakamuni dan Kāçyapa. Buddha yang ada pada masa sekarang adakah Sakyamuni yang berarti pendeta (muni) dari suku Sakya, gelar yang diberikan kepada Siddharta setelah menjadi Buddha, sedangkan Buddha yang akan lahir di masa datang adalah Maitreya atau Samantabhadra. Sang Hyang Kamahayanikan juga menyebutkan bahwa pokok ajaran Buddha adalah kebenaran yang digambarkan seperti lingkaran atau roda, yaitu dharmacakra: roda kebenaran dari sebab akibat, sebab yang satu akan muncul dari akibat yang lain. Gambaran tersebut sangat erat dengan wujud dasar candi Borobudur.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kitab ini adalah rujukan terpenting untuk memahami candi Borobudur terutama berkaitan dengan penjelasan mengenai sistem lima Dhyani Buddha yang diterapkan pada Candi Borobudur dalam teras bujur sangkar. Dan perlu dicatat bahwa sebagai candi Mahayana-Tantrayana, candi Borobudur adalah satu-satunya candi di dunia yang berbentuk mandala.

Dengan mempelajari Sang Hyang Kamahayanikan, kita dapat membayangkan bagaimana para yogi melakukan peribadatan Tantrayana di Borobudur. Dalam disertasi Dr. Noehardi Magetsari (2000) disebutkan bahwa Borobudur sesungguhnya adalah sebuah candi yang strukturnya menampilkan tahap-tahap perkembangan pengalaman seorang yogi untuk mencapai titik Kebudhaan dimana perasaan dan pikiran berhenti. Sebutan Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu yang populer di Borobudur adalah juga terdapar dalam kitab Sang Hyang Kamahayanikan.

Candi Borobudur adalah candi yang lebih dulu ada ketimbang kuil-kuil sakral di Nepal atau Tibet, dua kawasan yang sampai dewasa ini mayoritas warganya memeluk Buddha Tantrayana atau Vajrayana. Jika kian hari kian banyak biku-biku Tibet datang mengunjungi Borobudur, hal itu karena mereka beranggapan bahwa Borobudur adalah candi yang dapat menjadi salah satu rujukan utama spiritualitas mereka.

Kendati sebagai kitab yang sangat penting dalam khazanah sejarah Nusantara, sekaligus rujukan utama untuk memahami candi Borobudur, ternyata kitab Sanghyang Kamahayanikan sangat jarang dikaji. Dalam pelajaran sejarah atau mata kuliah ilmu humaniora atau ilmu budaya pada umumnya jarang sekali, bahkan tidak pernah diperkenalkan tentang Sang Hyang Kamahayanikan. Padahal ide-ide yang ada dalam Sang Hyang Kamahayanikan sesungguhnya sangat penting karena dapat menjelaskan kuil-kuil yang ada di Tibet atau Nepal.

Dengan alasan tersebut, Samana Foundation, sebagai pendiri sekaligus penyelenggarana Borobodur Writers& Cultural Festival mengambil nama SangHyang Kamahayanikan sebagai sebuah Award. Selain untuk memberi penghargaan kepada para tokoh peneliti dan penulis budaya serta sejarah Nusantara, hal itu juga sebagai upaya untuk mempopulerkan nama kitab yang sudah lama dilupakan.