ARUS BALIK: MEMORI REMPAH DAN BAHARI NUSANTARA, KOLONIAL DAN PASCA KOLONIAL
Nusantara pada dasarnya terbentuk oleh lautan karena dua per tiga kawasan ini adalah wilayah bahari yang menyatukan ribuan pulau. Bahkan sebelum muncul imperium besar Sriwijaya pada abad ke 7, telah terbangun hubungan yang luas dan intensif antarpulau, baik hubungan ekonomi, budaya maupun politik. Sebelum abad ke 5 bangsa-bangsa di kepulauan di Nusantara sudah berhubungan dengan bangsa-bangsa di kawasan lain di Asia Timur, Asia Pasifik, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Afrika. Suatu hubungan kuno yang terbentuk oleh pertukaran budaya, religius dan perdagangan.
Beberapa pakar sejarah bahari Nusantara bahkan memperkirakan bahwa para penjelajah Nusantara telah menanamkan pengaruh yang signifikan di benua Afrika. Juga telah terjadi berbagai pertukaran budaya dengan Persia dan kawasan yang lebih jauh. Pada masa dominasi Sriwijaya sebagai kekuatan bahari yang mengusai lalu lintas perdagangan laut di Asia Tenggara, pengaruh Nusantara di kawasan ini semakin kuat. Hal itu dilanjutkan dengan imperium Majapahit yang berlangsung kurang lebih dua abad.
Jadi, Nusantara memang tumbuh sebagai peradaban bahari. Terdapat banyak kisah para penjelajah Nusantara berikut perkembangan teknologi pelayaran dan ilmu navigasi serta berbagai pengalaman bahari yang sangat kaya. Namun bersamaan dengan datangnya imperialisme Eropa, perlahan peradaban bahari Nusantara mulai surut. Penyebab utama datangnya kaum imperialis Eropa adalah daya tarik kekayaan rempah, terutama cengkih yang menjadi komoditas utama dunia pada saat itu. Kekayaan rempah Nusantara kemudian diambil alih oleh para penjelajah Eropa. Dan faktanya, sejarah imperialisme adalah sejarah perdagangan rempah.
Jadi, selain terbentuk oleh laut, Nusantara juga terbentuk oleh perdagangan rempah. Tapi kemudian bangsa Nusantara terpecah-pecah menjadi kawasan pulau-pulau yang terus menjadi obyek perebutan bangsa Eropa. Orientasi Nusantara tidak lagi mengarah pada keluasan laut yang tanpa batas melainkan ke daratan. Itulah arus balik Nusantara: meninggalkan lautan menuju daratan yang sempit. Nusantara seolah melupakan kekayaan utamanya, melupakan keunggulan rempahnya.
Sebagai bangsa yang besar di laut, kita harus mengembalikan orientasi dan jati diri Nusantara sebagai bangsa bahari. Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2013 mengangkat tema Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara, Kolonial dan Poskolonial. Tujuannya adalah mengangkat kembali kekayaan bahari Nusantara yang telah lama dilupakan. Kekayaan dari sebuah peradaban besar yang lahir dan tumbuh di laut.
Terima Kasih untuk Semua Pihak yang telah mengikuti acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 Sampai jumpa… twitter.com/i/web/status/78587…
RT @radiobuku: Penyerahan Sang Hyang Kamahayani Award | Closing Ceremony & Award Nite #BWCF2016 | Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo… https://t.co/aHA66hxmXe
RT @radiobuku: Closing Ceremony & Award Nite dibuka #BWCF2016 @InfoBwcf pic.twitter.com/i1cVEWW2mP
RT @radiobuku: Langit Kresna Hariadi mewakili organisasi profesi penulis Indonesia, bacakan deklarasi hasil musyawarah #BWCF2016… https://t.co/31ihuliFC8
RT @radiobuku: Pembicara keempat sesi "Erotisisme dalam Sastra Indonesia", Dr. Emanuel Subangun bahas dgn padat dari sudut Budaya… https://t.co/sg1JLqzGr6
Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut...