
Sebagian besar penduduk Indonesia hidup di atas cincin api yang paling aktif di dunia, dengan gunung berapi yang setiap saat dapat memuntahkan magma. Sekurang-kurangnya ada 127 gunung berapi yang masih aktif di jalur cincin api Nusantara yang terentang dari Danau Toba di Sumatra Utara, lalu tersambung di daratan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga Ambon, dan Seram.
Letusan gunung api bisa menimbulkan bencana tidak hanya lingkungan sekitar gunung, tetapi bisa mencapai masyarakat lintas benua. Letusan dalam kategori kolosal dan superkolosal Gunung Tambora dan Toba berakibat pada hilangnya peradaban di wilayah tersebut serta berpengaruh pada proses evolusi di dunia. Sementara dampak lintas benua juga terjadi berupa anomali alam di luar kendali manusia sehingga dalam waktu tiga tahun langit gelap dan selama dua tahun tak ada musim panas di Eropa. Akibatnya, panen gagal dan kelaparan merajalela di Eropa.
Gunung Merapi secara periodik memuntahkan magma ke sekitarnya baik di wilayah Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Letusan itu memporak-porandakan apa saja yang ada di kedua wilayah tersebut. Dengan erupsi lima tahunan, Gunung Merapi merupakan gunung paling aktif di Indonesia, bahkan di dunia.
Maka, hubungan gunung dan manusia ini menempati posisi yang istimewa dalam kebudayaan di Nusantara. Hampir semua budaya di Nusantara memberi penghormatan kepada gunung. Penghormatan ini bisa berbagai macam maknanya. Bisa berarti ungkapan rasa takut, ucapan terima kasih, atau pemujaan. Juga dalam wujud kesenian, ritual, candi, batuan menhir, mitos, hikayat, nyanyian rakyat, dan legenda. Para penulis, budayawan dan sastrawan bertemu untuk berbagi inspirasi dan temuan-temuan baru, tentang mitos dan peradaban di baliknya serta lainnya.
Borobudur Writers and Cultural Festival 2015 dengan tema Gunung, Bencana dan Mitologi di Nusantara ini mendapat sorotan media baik cetak maupun digital baik dalam maupun luar negri. Dalam catatan kami (hingga tanggal 25 November 2015) sebanyak hampir 100 berita dari dalam negeri dan luar negeri (Times Hongkong, Times Malaysia dan Inggris) sekitar 10 buku baru bertemakan gunung akan terbit di akhir 2015 dan pertengahan tahun 2016. Kami yakin masih banyak berita tulisan yang akan terbit sehubungan dengan pertemuan tahunan BWCF ini.
Terima Kasih untuk Semua Pihak yang telah mengikuti acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 Sampai jumpa… twitter.com/i/web/status/78587…
RT @radiobuku: Penyerahan Sang Hyang Kamahayani Award | Closing Ceremony & Award Nite #BWCF2016 | Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo… https://t.co/aHA66hxmXe
RT @radiobuku: Closing Ceremony & Award Nite dibuka #BWCF2016 @InfoBwcf pic.twitter.com/i1cVEWW2mP
RT @radiobuku: Langit Kresna Hariadi mewakili organisasi profesi penulis Indonesia, bacakan deklarasi hasil musyawarah #BWCF2016… https://t.co/31ihuliFC8
RT @radiobuku: Pembicara keempat sesi "Erotisisme dalam Sastra Indonesia", Dr. Emanuel Subangun bahas dgn padat dari sudut Budaya… https://t.co/sg1JLqzGr6
Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut...