MUSYAWARAH AGUNG PENULIS CERITA SILAT & SEJARAH NUSANTARA
Berbagai festival yang mengambil tajuk festival penulis atau festival sastra dan budaya sudah sering dilakukan. Dalam perhelatan sastra-budaya semacam itu biasanya dirayakan karya-karya satra modern atau kontemporer. Berbagai tanda atau tonggak-tonggak (sekecil apa pun tonggak itu) yang diukur berdasarkan pencapaian artistik dan tematik sangat lazim dijadikan pokok bahasan atau tema pengikat dalam festival-festival tersebut. Festival sastra-budaya biasanya juga disusun sebagai wahana untuk melihat kecenderungan atau capaian terbaru dalam praktik penulisan literer.
Salah satu hal yang perlu dicatat dalam dunia sastra, terutama penulisan prosa, di Indonesia akhir-akhir ini adalah kian banyaknya novel-novel bertema atau berlatar sejarah Nusantara. Novel-novel itu umumnya diciptakan oleh pengarang-pengarang baru yang selama ini belum dikenal publik. Fenomena ini sungguh amat menggembirakan. Hal itu menandakan bahwa sejarah Nusantara menjadi sumber yang tak habis-habisnya diolah dalam penulisan prosa.
Dengan menggunakan latar belakang sejarah kerajaan Mataram, Majapahit, Sriwijaya dan Pajajaran, para novelis itu berusaha menghidupkan tokoh utama bahkan tokoh-tokoh baru (ciptaan mereka atau bukan) untuk memperkuat daya pukau karya-karyanya. Bahkan, tak jarang mereka berani memasuki hal hal yang belum terungkap secara gamblang dalam penulisan sejarah nusantara seperti perang Bubat atau kontroversi tentang asal usul dan akhir hidup Gajah Mada.
Fenomena prosa berlatar belakang sejarah sudah lama ada. Sebelumnya kita sudah mengenal berbagai buku cerita silat Nusantara atau komik-komik berlatar sejarah. Kita tahu penulis cerita silat seperti SH Mintardja yang melahirkan karya Naga Sasra Sabuk Inten atau Api di Bukit Menoreh (dalam puluhan jilid) dan Herman Pratikto lewat Bende Mataram, juga penulis peranakan Kho Ping Ho atau Asmaraman Sukowati. Generasi selanjutnya adalah sastrawan Arswendo Atmowiloto dengan Senopati Pamungkas dan Seno Gumira Ajidarma dengan novel tebal Nagabumi. Selain itu, di toko-toko buku kini juga kian banyak terpajang buku-buku sejarah buah tangan penulis dari dalam maupun luar negeri. Sayangnya fenomena maraknya cerita silat dan novel berlatar sejarah Nusantara itu belum banyak dikaji oleh para kritikus dan peneliti sastra kita. Juga belum ada suatu forum yang mempertemukan para penulis dari berbagai generasi tersebut.
Dengan melihat fenomena tersebut maka Borobudur Writers’ & Festival 2012 mencoba untuk melihat kembali Nusantara melalui kacamata prosa berlatar belakang sejarah, terutama genre cerita silat. Festival ini juga hendak melihat masa silam Nusantara dari berbagai sisi, bukan hanya melalui perspektif prosa melainkan juga perespektif kajian sejarah dan arkeologis. Maka kami mengambil tajuk: Musyawarah Agung Penulis Silat dan Sejarah Nusantara 2012. Pertemuan atau musyawarah ini dimaksudkan sebagai ajang diskusi dan wahana untuk saling mengenal antarpengarang. Juga untuk saling berbagi pengalaman menulis, termasuk berbagi pengalaman dalam melakukan penelitian, napak tilas sejarah-sejarah nusantara yang tersembunyi.
Adapun pemilihan tema Memori dan Imajinasi Nusantara tentu dapat menimbulkan perdebatan panjang. Apa sesungguhnya ari “memori” dan “imajinasi” di sini? Kami tak hendak membuka polemik perihal terminologis soal ini. Bagi kami cukuplah “memori” dan “imajinasi” diartikan sebagai bagian dari proses penyusunan konstruksi suatu “dunia”. Bahwa “dunia” tidak hanya dapat dilihat dari konstruksi sebagaimana tampak pada dirinya sendiri melainkan juga tergantung dari siapa dan bagaimana konstruksi itu disusun. “Memori” dan “imajinasi” adalah wahana sekaligus hasil dari proses penyusunan konstruksi tersebut, di mana satu sama lainnya saling mempengaruhi.
Dan dalam konteks sejarah Nusantara, meski telah terbit berbagai prosa berlatar sejarah maupun buku-buku kajian sejarah dan arkeologi, tapi semua itu belum sepenuhnya mengungkapkan sosok masa silam Nusantara yang sangat kaya. Masih banyak ruang-ruang kosong yang belum terungkap dalam sejarah Nusantara. Juga selalu muncul temuan-temuan baru di bidang arkeologi yang akan memberi perspektif baru pula. “Memori” dan “imajinasi” sejarah Nusantara masih dalam proses pembentukan terus-menerus. Buku-buku cerita silat dan berbagai novel berlatar sejarah adalah bagian dari proses tersebut.
Kali ini, kita bertemu untuk melihat kembali sejarah sebagai proses pembentukan memori serta imajinasi kita terhadapnya yang tak akanpernah selesai. Berbagai hasil ciptaan kreatif, kajian, penelitian dan segala bentuk karya budaya yang terinspirasi oleh sejarah Nusantara adalah bagian penting dari proses tersebut. Dengan begitu kita dapat melihat sejarah dalam sudut pandang yang lebih kaya sebagai wahana untuk memproyeksikan masa depan kita bersama.

Terima Kasih untuk Semua Pihak yang telah mengikuti acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 Sampai jumpa… twitter.com/i/web/status/78587…
RT @radiobuku: Penyerahan Sang Hyang Kamahayani Award | Closing Ceremony & Award Nite #BWCF2016 | Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo… https://t.co/aHA66hxmXe
RT @radiobuku: Closing Ceremony & Award Nite dibuka #BWCF2016 @InfoBwcf pic.twitter.com/i1cVEWW2mP
RT @radiobuku: Langit Kresna Hariadi mewakili organisasi profesi penulis Indonesia, bacakan deklarasi hasil musyawarah #BWCF2016… https://t.co/31ihuliFC8
RT @radiobuku: Pembicara keempat sesi "Erotisisme dalam Sastra Indonesia", Dr. Emanuel Subangun bahas dgn padat dari sudut Budaya… https://t.co/sg1JLqzGr6
Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut...