
Sejarawan kelahiran 1 September 1929 dan wafat di Jakarta 19 Juli 2011 ini adalah mahasiswa angkatan pertama di jurusan Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Disertasinya yang berjudul “Orang Laut – Bajak Laut – Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX” diakui sebagai salah satu kajian sejarah maritim terbaik Indonesia, di bawah promotor tokoh besar dalam ilmu sejarah, yaitu Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo. Disertasi itu kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul yang sama.
Lapian menjadi guru besar sejarah di Universitas Indonesia hingga wafatnya. Karena komitmen dan reputasinya yang menonjol dalam kajian sejarah maritim, ia kemudian dijuluki sebagai “nakhoda sejarah maritim Asia Tenggara”. Ia juga pernah menjadi Kepala Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim Markas Besar TNI AL, Ketua Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hingga pensiun pada tahun 1994.
Dalam buku “Orang Laut – Bajak Laut – Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX” kita menemukan kajian yang sangat komprehensif mengenai sejarah maririm di sekitar laut Sulawesi yang merupakan satu kesatuan dalam segi bahasa, etnologi, dan antropologis. Kajian tersebut menunjukkan kehidupan laut yang sangat rumit karena pada abad IX negara- negara kolonial secara intensif menanamkan pengaruhnya. Meskipun pada abad XVI Laut Sulawesi telah lebih dahulu dikunjungi oleh Spanyol dan Portugis serta Inggris sejak akhir abad XVIII yang muncul sebagai kekuatan kolonial ketiga di Laut Sulawesi.
Sebagai sebuah kawasan perairan, Laut Sulawesi adalah sebuah salah satu pusat kebudayaan Maritim yang berpengaruh di kawasan timur Nusantara, wilayah Filipina dan sekitarnya. Kebudayaan di kawasan itu juga dikembangkan oleh penduduk pantai Kalimantan Timur, termasuk Sabah Timur yang termasuk suku bangsa Tidung. Kebudayaan yang juga berkembang hingga sungai besar di daerah delta yang dibentuk oleh muara- muara sungai, dengan berbagai jenis perahu seperti Jukung, lumbung dan gubang. Lapian juga banyak menyoroti wilayah perbatasan, terutama teritorial laut. Selain orang laut yang mencari kehidupan di laut, juga terdapat sekelompok masyarakat yang disebut sebagai bajak laut yang merampas barang dari kapal-kapal, terutama bajak laut Sulu, Mangindanao, Balangingi dan sebagainya. Selain orang lautdan bajak laut, ada kelompok lain, yaitu raja laut : kapitan laut, datu laut, pangeran laut. Keberadaan raja laut tidak bisa diabaikan dalam sejarah maritim karena mereka mewakili kekuatan kerajaan atau kesultanan, sebagai kekuatan laut yang resmi.
Jika bajak laut merupakan kekuatan tandingan yang oleh pemerintahan yang berkuasa dianggap ”liar”, orang laut adalah masyarakat yang tidak atau belum terorganisasi dan terinegrasi dalam sistem negara atau kerajaan. Mereka pada umumnya hidup nomaden dengan pergerakan yang tidak sampai ke laut lepas dan tinggal di tepi laut atau di sekitar laut dangkal, dalam perahu-perahu kecil yang dihuni oleh keluarga-keluarga. Dalam kehidupan yang serba terasing itu, orang laut juga sesekali melakukan kontrak dengan orang-orang yang ada di darat untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti beras, pakaian dan sebagainya. Orang darat menganggap orang laut sebagai kaum primitif dan berkebudayaan rendah. Tapi lama kelamaan mulai banyak orang laut yang pindah menetap ke darat karena menemukan kenyataan bahwa laut menjadi wilayah yang kian berbahaya dan semakin terbatasnya wilayah untuk mencari ikan.
Kehidupan laut yang melibatkan ketiga golongan tersebut semakin lama semakin rumit, terjadi tumpang tindih dan interdependensi dari ketiga golongan. Orang Laut dan Bajak Laut sering bekerja sama dengan sesama anggota kelompok masing-masing atau kelompok lain. Sedangkan Raja Laut harus terus mengakomodasi mereka untuk menjaga legitimasi kekuasaan maupun keberlangsungan ekonomi yang dijalankan. Dengan bangunan argumentasi yang kokoh didukung jangkauan literatur yang luas dalam berbagai bahasa, membuat buku tersebut menjadi buku terpenting dalam sejarah bahasi Nusantara. Selain buku tersebut, Lapian juga menulis buku Pelayaran dan Perniagaan Nusantara: Abad ke-16 dan 17(2008) dan For Better or Worse – Collected Essays on Indonesian-Dutch Encounters (2010), juga banyak menulis paper untuk seminar sejarah bahari di Indonesia maupun di luar negeri, terlibat dalam berbagai upaya pengembangan kebijakan dan pengkajian bahari Nusantara.
Indonesia adalah negara bahari dengan cakupan wilayang yang sangat luas dan terbentuk oleh sejarah yang panjang pula. Ironisnya, para pengaji sejarah bahari atau sejarawan bahari, sungguh sangat sedikit jumlahnya. Hari ini sejarawan bahari sungguh langka. Bidang kajian bahari dianggap kurang seksi sehingga hanya orang-orang yang setia dan tahan bekerja dalam keunyian yang dapat menempuhnya. AB Lapian adalah salah satu, mungkin satu-satunya perintis sejarah bahari yang setia dan terus bekerja tanpa lelah untuk menyelami sejarah bahari Nusantara yang begitu luas. Kontribusinya dalam pengembangan sejarah bahari Nusantara hingga kini belum ada yang menyamainya. Oleh karena itu, tanpa keraguan sedikitpun Borobudur Writers & Cultural memberikan Sanghyang Kamahayanikan 2013 kepada almarhum AB Lapian sebagai tokoh penting yang telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pengkajian sejarah bahari Nusantara.
Juri untuk penerima penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award 2013 adalah: Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Sejawaran Bahari), Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ (Pengajar filsafat di UI dan STF Driyarkara, Jakarta), Ir. Widi Aswindi (Aktivis Sosial), Taufik Rahzen (Budayawan), dan Tim Samana Foundation yang terdiri dari: Dorothea Rosa Herliany, Imam Muhtarom, Seno Joko Suyono, Wicaksono Adi, Yoke Darmawan.
Terima Kasih untuk Semua Pihak yang telah mengikuti acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 Sampai jumpa… twitter.com/i/web/status/78587…
RT @radiobuku: Penyerahan Sang Hyang Kamahayani Award | Closing Ceremony & Award Nite #BWCF2016 | Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo… https://t.co/aHA66hxmXe
RT @radiobuku: Closing Ceremony & Award Nite dibuka #BWCF2016 @InfoBwcf pic.twitter.com/i1cVEWW2mP
RT @radiobuku: Langit Kresna Hariadi mewakili organisasi profesi penulis Indonesia, bacakan deklarasi hasil musyawarah #BWCF2016… https://t.co/31ihuliFC8
RT @radiobuku: Pembicara keempat sesi "Erotisisme dalam Sastra Indonesia", Dr. Emanuel Subangun bahas dgn padat dari sudut Budaya… https://t.co/sg1JLqzGr6
Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut...