Borobudur Writers and Cultural Festival

Penerima Sanghyang Kamahayanikan Award 2012

sh mintardja 1

Untuk menentukan penerima penghargaan Sang Hyang Kamayanikan Award 2012, tim dari Samana Foundation yang terdiri dari Seno Joko Suyono, Wicaksono Adi, Yoke Darmawan, Dorothea Rosa Herliany, dan Imam Muhtarom mengundang tiga orang pakar yaitu Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ, Taufik Rahzen dan Arswendo Atmowiloto. Setelah melalui telaah yang cukup panjang akhirnya tim juri memilih Singgih Hadi (SH) Mintardja sebagai penerima Sang Hyang Kamayanikan Award 2012.

Patut dicatat bahwa semasa hidupnya, SH Mintardja lebih banyak dikenal sebagai penulis cerita bersambung serial silat dengan setting kerajaan Mataram zaman Sultan Agung di beberapa surat kabar, seperti Harian Bernas berjudul Mendung di Atas Cakrawala dan Api Di Bukit Menoreh di Harian Kedaulatan Rakyat. Keduanya terbit di Yogyakarta. Episode terakhir yang hadir di hadapan pembaca Harian Bernas adalah episode ke 848 Mendung di Atas Cakrawala.
Berbekal pengetahuan sejarah, ditambah dengan pembacaanya terhadap Babad Tanah Jawi yang beraksara Jawa, lahir cerita Nagasasra Sabuk Inten. Prosa silat sebanyak 28 jilid itu meledak di pasaran dan amat digandrungi pembaca khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Setelah itu SH Mintardja menulis prosa Pelangi di Langit Singasari (dimuat di Harian Berita Nasional tahun 1970-an) kemudian dilanjutkan dengan serial Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan. Dan sejak tahun 1967 pengarang ini mulai menulis Api di Bukit Menoreh yang mengambil latar berdirinya kerajaan Mataram Islam.

SH Mintardja telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 buku. Buku-buku lainnya adalah: Tanah Warisan (8 episode); Matahari Esok Pagi (15 episode); Meraba Matahari (9 episode); Suramnya Bayang-bayang (34 episode); Sayap-sayap Terkembang (67 episode); Istana yang Suram (14 episode); Nagasasra Sabukinten (16 episode); Yang Terasing (13 episode); Mata Air di Bayangan Bukit (23 episode); Kembang Kecubung (6 episode); Jejak di Balik Bukit (40 episode); Tembang Tantangan (24 episode).

Dapat dikatakan bahwa SH Mintardja adalah bagian dari generasi pertama penulis silat Nusantara yang memperoleh pembaca sangat luas, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tapi pembaca karya-karya SH. Mitardja kemudian semakin meluas melintasi batas-batas generasi dan cakupan subyek yang diangkat. Dalam sejarah penulisan cerita seilat di Nusantara, dapat dikatakan bahwa pada lima dekade awal abad ke 20, cerita silat yang terbit kebanyakan merypakan hasil terjemahan atau adaptasi cerita-cerita dari Tiongkok.

Baru pada tahun 1950-1960-an muncul beberapa penulis cerita silat yang menghasilkan karya-karya bukan kisah saduran, salah satunya adalah Khoo Ping Ho, pengarang dari kota Sragen, Jawa Tengah yang menulis ratusan jilid buku, kebanyakan berlatar negeri Tiongkok (meski pengarangnya tidak pernah ke negeri tersebut). SH Mintardja adalah satu dari sederet penulis buku silat lokal, selain Widi Widayat (Cinta dan Tipu Muslihat dan Terbentur Nasib), Herman Pratikto (Bende Mataram dan Mencari Bende Mataram). Kemudian Bastian Tito penulis seri novel Wiro Sableng yang belakangan cukup sukses saat dijadikan novel seri.

SH Mintardja dipilih sebagai penerima Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012 mengingat karya-karyanya yang unik dan bertolak pada kelindan antara kisah-kisah “sejarah” dalam permainan “fiksi” yang sangat merangsang. Dasi segi fiksi, karya-karyanya disusun menjadi sebentuk cerita yang kadang lepas dari apa yang sesungguhnya telah terjadi dalam sejarah. Beberapa tokoh penting dalam karya SH. Mintardja benar-benar ciptaan sang penulis. Sementara dalam memanfaatkan unsur-unsur sejarah, seperti pada prosa Nagasasra Sabuk Inten yang berlatar riwayat berdirinya

Mataram baru dan menjelang runtuhnya kerajaan Demak Bintoro, para pembaca dapat menghayati Mataram sebagai sebuah sejarah yang sangat hidup. Memang karya-karyanya cenderung mengukuhkan struktur kuasa Mataram sebagai kerajaan konsentris di mana Raja adalah pusat kosmos sehingga segala hal yang berada di sekitarnya terserap dalam kekuatan tersebut, pada tingkat tertentu karya-karya SH Mintardja telah memberi semacam “pengayaan” pemahaman terhadap riwayat sejarah Mataram. Karya-karya SH Mintardja adalah bagian dari produksi pengetahuan dalam lingkup masyarakat tradisional Jawa dengan pemusatan kuasa pada Sang Raja agung. Dalam konteks produksi dan penyebaran “imajinasi” semacam itu karya-karnya hidup. Atau lebih tepat, karya-karyanya telah menghidupkan sejarah dalam bentuk prosa yang terus menerus dikonsumsi oleh para pembacanya. Dapat dikatakan bahwa karya-karyanya merupakan refleksi cara pandang masyarakat di mana ia hidup.

Penghargaan Sang Hyang Kamayahanikan 2012 adalah trofi berwujud patung yang dirancang dan dibuat oleh Ismanto, seniman pahat yang aktif berkarya di desa-desa sekitar Borobudur. Selain trofi juga diberikan hadiah uang sebesar Rp. 25 juta. Penyerahan penghargaan dilakukan pada acara penutupan Borobudur Writers & Cultural Festival, di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, 31 Oktober 2012. Penghargaan diserahkan oleh Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ sebagai Ketua Dewan Juri, didampingi perwakilan PT. Taman Wisata Candi Borobudur. Penghargaan diterima oleh Bapak Andang Suprihadi sebagai anak tertua almarhum SH Mintardja yang didampingi adik-adiknya.