Borobudur Writers and Cultural Festival

Nigel Bullough - Penerima Sang Hyang Kamahayanikan Award 2015

nigel-bullough

Nigel Bullough (63 tahun), adalah sosok yang mengabdikan dirinya untuk meneliti masa silam nusantara. Latar belakang pendidikannya bukan arkeologi. Tapi ia menghabiskan banyak tahun-tahun dalam hidupnya untuk menelusuri desa-desa dan lokasi-lokasi yang tercantum dalam Nagarakertagama, seraya membayangkan perjalanan Hayam Wuruk dan keanggunan Majapahit. Dan kemudian kini ia mendata candi-candi yang tertanam di lereng-lereng Gunung Penanggungan.

Begitu cintanya Nigel Bullough terhadap masa silam nusantara hingga ia mengganti nama menjadi Hadi Sidomulyo. Atas kecintaan dan dedikasi pria asal Inggris yang sudah menetap di Indonesia sejak 1971 itu terhadap riset-riset Majapahit dan Gunung Penanggungan, kami dari Borobudur Writer and Cultural Festival memustuskan memberi penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award bagi Hadi Sidomulyo.
Hadi pernah menulis buku: Historic East Java: Remains in Stone.Ia juga pernah menulis buku: Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca (2007). Menurut Hadi, Nagarakretagama karya Mpu Prapanca memiliki tempat sangat istimewa dalam sejarah Jawa. Kitab ini merupakan buku sejarah yang menjelaskan kehidupan sosial-politik, keagamaan, dan budaya di masa Majapahit. Semua informasi itu ditulis Prapanca setelah mengikuti perjalanan Hayam Wuruk ke sejumlah wilayah kekuasaan Majapahit pada 1359. Perjalanan selama tiga bulan, September-Desember, itu terbentang sepanjang 700 kilometer dari pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan ke arah timur di Blambangan.

Perkenalan Hadi dengan naskah Nagarakretagama berawal pada 1989. Saat itu, ia diajak koleganya bergabung dalam tim ekspedisi yang bertugas menelusuri potensi wisata dan kebudayaan di Jawa Timur. “Waktu itu saya mendapat buku Nagarakretagama terjemahan Slamet Muljana (1953). Menurut saya, itu buku peta pariwisata paling tua di Indonesia. Makanya selalu saya bawa selama perjalanan,” ujarnya seperti pernah dikutip Majalah Tempo.

Dalam Nagarakertagama, Prapanca sedikitnya menyebut 200 nama tempat. Beberapa di antaranya adalah tempat yang panorama alamnya sangat menakjubkan, bahkan menurut Hadi Sidomulyo masih dijadikan obyek wisata hingga sekarang. Banyak peneliti telah mengkaji kitab Nagarakertagama secara tekstual. Tapi belum ada satu peneliti pun yang terjun ke lapangan menapaktilasi tempat-tempat tersebut. Dan itulah yang dilakukan Hadi Sidomulyo. Ia turun ke desa-desa mencari nama desa-desa dan tempat-tempat yang disebut di Nagarakertagama. Sebuah kegilaan yang tidak mungkin dilaksanakan, apabila orang tidak memiliki rasa keterpesonaan mendalam terhadap misteri sejarah.

Pada 1998, Hadi memulai ekspedisinya tanpa dukungan sponsor. Tempat-tempat yang pernah disinggahi Hayam Wuruk ia telusuri kembali satu per satu. Misalnya yang tersebut dalam pupuh (syair) 17-39 Nagarakretagama. Rute perjalanan itu dimulai dari Trowulan, ke Pasuruan, Probolinggo, hingga Lumajang, lalu menyisir pantai selatan dan berbelok ke arah Jember, Bondowoso, Situbondo, dan pulang melalui rute pantai utara. Ada kalanya ia harus naik-turun perbukitan dan menyisir garis pantai yang tidak memiliki akses kendaraan. Hingga ia harus jalan kaki hingga puluhan kilometer.

Tantangan ekspedisinya tidak sebatas itu. Sebagian besar desa yang ia temukan hampir tidak bisa dikenali sesuai dengan nama aslinya. Mayoritas telah berganti nama. Hadi menggunakan toponimi desa yang namanya masih bertahan. Desa itu dijadikan petunjuk guna menelusuri desa-desa lain. Saat melacak rute perjalanan Hayam Wuruk di hari pertama, misalnya, ia menjadikan Trowulan dan Kepulungan sebagai patokannya. Ia lalu mencari sebelas desa lain di sekitar dua tempat tersebut, seperti Japan, Pendowo, Tebu, dan Daluan. Ternyata nama Japan telah hilang (meski sebenarnya ada Japanan di dekat sana). Desa Tebu masih ada. Sedangkan Desa Pendowo dan Daluan sudah berubah nama.

Hadi banyak menemui dan mewancarai para sesepuh desa untuk melacak perubahan nama desa. Dan dia mendapat data bahwa memang banyak desa yang berganti nama. Desa Modopuro dulunya bernama Daluan. Adapun Pendowo mengalami perubahan gejala fonetis menjadi Pandaan. Pendowo itu menurut Hadi Sidomulyo adalah nama desa yang juga disebut Mpu Bharada dalam serat Calon Arang, naskah yang dibuat pada masa Kediri (abad ke-12, sebelum Majapahit). Sejumlah literatur, baik yang berupa naskah kuno seperti Calon Arang maupun buku-buku lain yang lahir setelahnya, memang dia pakai sebagai pendukung.

Cara lain yang digunakan Hadi untuk melacak perubahan nama-nama desa adalah dengan mengenali perubahan lambang bunyi. Contoh unik ia dapati ketika mencari Desa Kamirahan yang dijelaskan Prapanca berada di sekitar pantai selatan, tidak jauh dari Lumajang. Dalam peta, nama desa itu tidak lagi terdeteksi. Dugaan Hadi kala itu mengarah pada suatu tempat di sekitar Pantai Bambang. Tebakannya jitu. Sesepuh desa yang ia temui mengatakan Pantai Bambang dulunya bernama Kamirahan, lalu berubah menjadi Abang-abang (“abang” = merah) dan belakangan sebutan desa itu menjadi lebih ringkas: Pantai Bambang.

Di sekitar Pantai Paseban, Jember selatan, desa yang ia temukan tidak hanya berubah nama. Tempat yang dijelaskan Prapanca dengan sebutan Rabut Lawang rupanya mengalami perubahan topografi. Dalam deskripsi Prapanca, Rabut Lawang adalah muara Sungai Bondoyudo. Iring-iringan rombongan Raja diuraikan Prapanca akan melintasi sungai itu namun sempat terhenti. Mereka harus menunggu air surut sebelum menyeberang. Nah, seseorang yang tidak jeli membaca perubahan tata kota pasti akan terjebak. Sebab, di zaman Belanda, aliran Sungai Bondoyudo itu dialihkan ke arah timur mengikuti garis pantai sepanjang empat kilometer. Sungai itu kini bermuara di Desa Tempuran.

Migrasi kelompok masyarakat juga ikut mempengaruhi perubahan nama tempat. Hal itu Hadi temukan saat mencari Desa Alang-alang Dhowo. Desa itu disinggahi rombongan Hayam Wuruk selepas Panarukan. Desa yang juga diceritakan dalam serat Calon Arang ini tidak lagi terekam dalam peta. Namun jejaknya masih bisa ditelusuri dari keterangan sesepuh desa, khususnya mereka yang berasal dari etnis Madura. Desa itu sekarang menurut Hadi bernama Lang Debhe. Debhe itu bahasa Madura, artinya tinggi. Perubahan itu terjadi karena dulu banyak warga Madura yang bermigrasi ke tempat tersebut.

Menurut Hadi, hasil penelusurannya kala itu berhasil menemukan 80 persen desa saja. Sisanya sulit dilacak karena banyak sebab. Di Lumajang, misalnya, ia gagal memastikan rute perjalanan karena keterangan yang dibuat Prapanca sangat minim. Tidak puas dengan temuannya, Hadi mengulang ekspedisinya pada 2006. Sebuah alat pelacak tempat (global positioning system) dipakainya saat itu.

Dalam penelusurannya di lapangan, Hadi banyak memunculkan perspektif baru atas lokasi-lokasi Negarakertagama. Madakaripura misalnya. Nama, pertapaan terakhir Gajah Mada yang disebut Mpu Pra­panca dalam kitab Nagarakretagama bukanlah, selama ini diyakini para ahli letaknya di Probolinggo. Tapi dari temuannya di lapangan, Hadi bersikukuh lokasi Madakaripura tersebut di Pasuruan.

Madakaripura punya arti penting bagi penelitian sejarah Majapahit. Kota ini merupakan wilayah yang dihadiahkan Raja Hayam Wuruk kepada Mahapatih Gajah Mada. Saat melakukan ekspedisi ke bagian timur wilayah kekuasaannya pada 1359 itu, Hayam Wuruk sempat menyinggahi kota ini. Dijelaskan dalam Nagarakretagama bahwa Raja sempat istirahat dua malam di sana. Penduduk dari sebelas desa menyambut sambil membawa seserahan berupa makanan. Kemudian Raja pergi ke sumber air suci. Keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan melalui Ranu Akuning. Ranu artinya danau. Dengan kata lain, perjalanan itu pastilah melalui tempat yang memiliki danau.

Selama ini Kota Madakaripura diyakini terletak di daerah Probolinggo, tepatnya di kaki Gunung Bromo. Namanya dihubung-hubungkan dengan area wisata yang panorama alamnya sangat menawan. Di sana terdapat air terjun Madakaripura di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang. Aliran airnya merintik halus dari lereng bukit setinggi 30 meter. Di pintu masuknya kini berdiri sebuah patung Gajah Mada yang tengah bersemadi. Tapi Hadi mencium satu kejanggalan. Posisi Madakaripura di Probolinggo rupanya tidak didukung toponimi desa-desa yang dijelaskan Prapanca. Tidak ada Desa Dadap. Begitu pula nama desa lain, seperti Blambangan Wetan, Tenggilis Rejo, Bayaman, dan Lumbang.

Menurut Hadi, kekeliruan itu muncul karena para ahli hanya mengandalkan peta topografis. Penentuan air terjun Madakaripura semata didasari lokasinya yang berdekatan dengan Desa Ambulu (desa yang disebut Prapanca). Padahal, di Pulau Jawa, Ambulu adalah nama yang sangat pasaran. Desa yang sama bisa ditemukan di berbagai daerah, seperti di Jember dan Banyuwangi. Celah itulah yang mendorong Hadi menapak tilas tempat-tempat yang disebut Prapanca. Hasil penelusurannya tidak sia-sia. Ia sampai pada satu kesimpulan: tempat yang dimaksud berada di sebelah tenggara Kota Pasuruan.

Di Pasuruan dari sebelas desa yang dijelaskan Prapanca, ia berhasil menemukan delapan desa di antaranya. Jarak desa-desa itu pun berdekatan, meski sebagian telah berganti nama. Tapi ada satu pertanyaan yang mengusik pikirannya: di sekitar wilayah itu ternyata tidak ada daerah bernama Madakaripura. Kuat dugaan, Kota Madakaripura telah berganti nama. Dari sumber Portugis yang ditulis pada abad ke-16 Hadi memperoleh data bahwa saat Portugis pertama kali masuk Jawa, daerah Pasuruan kala itu dikuasai keluarga Mahapatih.

Keyakinan Hadi semakin kuat setelah ia menyinggahi Desa Kebon Candi di Kecamatan Gedongwetan. Desa itu diapit desa Tenggilis dan Bayaman. Konon, nama desa itu digunakan lantaran di daerah tersebut banyak ditemukan candi Buddha. Sebuah petunjuk datang ketika ia mengunjungi sebuah masjid tua. Di halamannya terserak peninggalan situs kuno berupa lapik arca. Beberapa masih utuh. Namun sebagian besar hilang dicuri orang. Pada zaman Belanda, kata Hadi, Kebon Candi merupakan wilayah berstatus distrik. Dengan status tersebut, dapat disimpulkan bahwa desa itu dulu merupakan wilayah yang memainkan peran cukup penting.

Lalu di manakah letak sumber air suci dan danau yang dimaksud Prapanca? Menurut Hadi, sumber air yang dimaksud tidak lain adalah Pemandian Banyubiru. Banyubiru adalah sumber air yang sejak dulu dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat Pasuruan. Letaknya di Desa Sumberejo, sekitar tiga kilometer ke arah timur dari Desa Kebon Candi. Di dalam area wisata itu juga tersimpan banyak benda bersejarah berupa arca. Tidak jauh dari Banyubiru terdapat danau yang cukup luas. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Ranu Grati. Hadi berkeyakinan, tempat itu dahulu bernama Ranu Akuning.

Penentuan danau itu awalnya kurang meyakinkan. Menurut rakyat setempat, nama Ranu Grati berasal dari sebuah legenda yang versi ceritanya cukup banyak. Namun yang menjadi dasar rujukan analisisnya bukanlah legenda tersebut. Kesimpulan itu setelah ia menemukan pasar yang disebut Prapanca: Blera. Pasar itu terletak di pinggir utara Danau Ranu Grati. Tidak jauh dari daerah itu terdapat sentra perajin keris. Tepatnya di Kecamatan Winongan. Keahlian mereka mereka menurut dugaan Hadi diwariskan turun-temurun sejak dulu. Sebagai pemimpin angkatan perang, Gajah Mada pasti memerlukan banyak senjata.

Hadi memang tidak tegas menyebut letak Madakaripura. Menurut analisisnya, kota itu berada di sekitar Kebon Candi atau Winongan. Atau mungkin dulunya sebuah nama yang menyatukan desa-desa tersebut. Yang jelas, kata dia, semua penemuannya itu saling mendukung. Nama tempat, penanda alam, ataupun situs kuno yang terserak di sekitar wilayah itu menjadi petunjuknya.

***

Beberapa tahun terakhir ini Hadi Sidomulyo juga melakukan survei atas reruntuhan candi-candi di sekujur lereng Gunung Penanggungan Jawa Timur. Pegunungan Penanggungan pada zaman lampau dianggap suci karena mirip dengan Mahameru di Jambhudwipa (India), berupa satu gunung utama dikelilingi beberapa puncak gunung. Pegunungan Penanggungan terdiri atas Gunung Penanggungan (1.653 meter) yang dikelilingi empat puncak gunung: Gajah Mungkur (setinggi 1.084 meter di sisi timur laut), Kemuncup (1.238 meter, tenggara), Sarahklopo (1.235 meter, barat daya), dan Gunung Bekel (barat laut).

Pembangunan situs pemujaan di Penanggungan, bermula pada abad ke-10. Peninggalan tertua adalah pemandian Jalatunda, dengan tahun pembuatan 977 Masehi. Sebelum abad ke-10, belum ada peradaban yang tinggal di Gunung Penanggungan. Kalaupun ada, sifatnya tersebar dan belum tersentuh agama Buddha-Hindu. Punden berundak dan altar pemujaan menjadi bukti telak atas kehadiran agama lokal di Penanggung. Pembangunan situs keagamaan marak setelah Kerajaan Mataram hijrah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pembangunan berhenti pada 1511, seiring dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Namun pada masa itu masih banyak resi yang melakukan meditasi di Penanggungan. Baru pada 1543 pertapaan berhenti total karena serangan pKerajaan Demak. Lalu para Petapa hijrah ke timur, ke arah Bromo dan Bali.

Penelitian pertama di Gunung Penanggungan dilakukan arkeolog Belanda, Stutterheim (1892-1942), pada 1926. Menurut Stutterheim, bangunan suci berwujud punden berundak di Penanggungan merupakan tempat pemujaan arwah leluhur. Stutterheim, yang pernah menjabat Direktur Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) menggantikan Frederik David Kan Bosch, melanjutkan penelitiannya dengan survei lapangan pada 1936, 1937, dan 1940. Penelitian itu berhasil mencatatkan 81 situs kepurbakalaan yang tersebar di lerengnya, terutama di sebelah utara dan barat-sebagian besar berupa punden berundak dan gua pertapaan, selain artefak lepas. Semua situs itu diberi tanda dengan angka Romawi: I sampai LXXXI.

Sayangnya, hasil survei ini tidak pernah diterbitkan sampai V.R. van Romondt melakukan pendataan ulang dengan hasil berupa laporan berjudul Peninggalan-peninggalan Purbakala di Gunung Penanggungan: Hasil Penyelidikan di Gunung Penanggungan Selama Tahun 1936, 1937, dan 1940, yang diterbitkan Dinas Purbakala pada 1951. Tapi Romondt gagal menempatkan sepertiga dari temuan Stutterheim itu dalam peta yang ia buat. Hampir 30 situs hilang karena dicuri atau tertelan alam.

Beruntung, Ichwani, kepala juru gambar yang ikut survei lapangan pada 1930-an, dapat endeskripsi ulang 51 situs. Laporan Ichwani inilah yang menjadi pedoman bagi para peneliti masa sekarang. Misalnya survei yang dilakukan Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional pada 1975. Juga survei yang dilaksanakan tim Keluarga Mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (Kama-FSUI) pada 1983. Upaya inventarisasi situs arkeologi yang dilakukan Kama-FSUI di bawah pimpinan Agus Aris Munandar itu berhasil mendokumentasikan 41 situs dari lereng utara dan barat hingga puncak Penanggungan. Tidak hanya kali itu, Agus kembali mengunjungi Penanggungan pada 1985 dan 1989 untuk melengkapi tesisnya yang berjudul “Kegiatan Keagamaan di Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14-15”.

Pawitra sebutan lain untuk Penanggungan. Dalam kitab Tantu Panggelaran yang dibuat pada 1635 diceritakan perihal pemindahan separuh tubuh hingga puncak Mahameru dari Jambhudwipa (Himalaya, India) ke Jawadwipa oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Dalam pemindahan itu, potongan tubuh Mahameru berjatuhan hingga membentuk Gunung Lawu, Wilis, Kelud, Kawi, Arjuna, dan Welirang, serta Bromo, dan potongan paling besar menjadi Semeru. Tinggallah bagian puncaknya yang berdiri sendiri menjadi Pawitra. Nama Pawitra juga tertulis dalam prasasti suci yang ditemukan di lereng timur Gunung Penanggungan. Disebutkan bahwa di Pawitra terdapat tempat pertapaan (dharmasrama).

Hadi Sidomulyo sendiri menyusuri berbagai sisi lereng Penanggungan. Hadi Sidomulyo melakukan pendataan kembali. Ia mempelajari semua data bekas candi-candi yang ada di Penanggungan yang telah diteliti para arkeolog dan melakukan pensurveian ulang. Ia melakukan semacam pemutakhiran inventarisasi data. Dan ternyata ia menemukan beberapa bekas-bekas candi yang tak ada dalam inventarisasi yang telah dilakukan para arkeolog.

Di lereng timur Gunung Bekel, kawasan Pegunungan Penanggungan, misalnya ia menemukan bekas candi yang sebelumnya tidak pernah didata para arkeolog sejak zaman Williem Frederik, peneliti pertama yang mendata situs purbakala di Gunung Penanggungan, hampir 11 windu silam. Bekas candi itu terbuat dari batu alam yang tertata rapi membentuk teras berundak berukuran sekitar 16 meter persegi itu. Oleh Hadi, bekas candi itu spontan dia beri nama Candi Tawon lantaran saat menemukannya di dekatnya ada sarang tawon seukuran badan orang.

Area hutan Gunung Bekel seluas 80 hektare pada pertengahan Oktober 2013 pernah terbakar. Itu menyebabkan Gunung Bekel gundul. Yang tersisa hanya pokok-pokok pohon yang kering tanpa daun. Tapi itu membuat memudahkan Hadi menemukan kembali Candi Tawon. Sebelumnya candi itu tertimbun oleh ilalang lebat dan tak tampak fisiknya. Tawon adalah satu dari 116 situs arkeologi yang diinventarisasi oleh tim yang dipimpin Hadi. Tim ekspedisi Penanggungan Archaeological Trail (PAT) yang dibentuk Pusat Pelatihan Universitas Surabaya (Ubaya Training Center, UTC) itu sejak Mei 2012 hingga November 2013 melakukan pendataan kembali situs kepurbakalaan di Gunung Penanggungan.

Jumlah 116 situs di Gunung Penanggungan itu adalah hasil keseluruhan, termasuk pengidentifikasian kembali situs yang telah ditemukan para peneliti terdahulu, baik arkeolog Belanda maupun Indonesia. Mereka memeriksa apakah situs-situs itu masih ada atau lenyap. Menurut Hadi, dapat dipastikan 80 persen situs candi yang tersebar di kawasan Gunung Penanggungan merupakan peninggalan Majapahit. Ada keterikatan yang kuat antra situs Trowulan dan situs candi yang berada di Gunung Penanggungan. Menurut Hadi, sementara Trowulan sebagai keratonnya Majapahit atau pusat administrasi pemerintahan, Gunung Penanggungan sebagai pusat religinya. “Bisa dikatakan Gunung Penanggungan memiliki situs purbakala paling banyak di Indonesia,” ujarnya.

Demi keamanan atas temuan itu, setelah mendokumentasikan, temuan baru itu oleh Hadi dikubur kembali. Hadi juga merekam koordinat jalur menuju candi baru itu dalam perangkat Global Positioning System miliknya. Dia menegaskan yang perlu dilakukan saat ini adalah langkah penyelamatan terhadap situs peninggalan di kawasan Penanggungan. Ia mengusulkan agar kawasan Gunung Penanggungan ditetapkan sebagai cagar alam dan budaya. Setelah itu dilakukan pemetaan kawasan. Dengan zonasi, kata Hadi, keberadaan situs menjadi aman karena pintu masuknya dijaga. Pemetaan juga termasuk menjaga jangan sampai industri masuk sampai ke atas.